Kamis, 07 Juni 2012

dellila, kamu kah itu?

malam itu begitu teduh, masih ada sedikit bercak hujan di daun pohon itu, menyeruak setia kepada daun yang pasrah seakan-akan tiada pilihan untuknya, ya daun itu merindukan rintik hujan yang sudah lama tidak membelainya

malam itu bhumi masih terduduk diatas kursi santai nya, mencoba menikmati gerimis seakan-akan tidak mau kalah rindu dengan sang daun,
"dellila, kamu kah itu?" dalam hati bhumi berucap
spontan bhumi mengucap "astaghfirullah" sambil menundukkan mata hampir terpejam, karena memang belakangan ini dia mulai berharap dellila juga memikirkannya, belakangan ini bhumi berharap dellila tau kalau memang sejak dulu bhumi memang menunggu nya dan berharap akan adanya balasan dari dellila, tapi segera diinsyafi karena pada hakikatnya mencintai itu hanya memberi

bhumi masih terpejam saat itu, dan masih diatas sajadah tahajudnya dan dia mengambil sepucuk kertas lalu menuangkan isi hati nya yang sudah meluap itu, bhumi memang selalu mengungkapkan isi hati nya dengan menulis, itu membuatnya lebih lega

"delilla, wahai gadis manis yang selalu ceria, andai kamu tahu, ingin sekali aku memiliki senyum itu, dikeseharianku, menyemangatiku dikala aku ingin berangkat kerja, setia mengindahkan isi rumah ini yang rindu akan hiasan senyum itu dellila..."

"aku yakin dellila, doaku dan doamu akan terpatri dilangit yang sama pada sepertiga malam ini, walau kita belum berada pada sajadah yang sama, tapi aku yakin sang Pencipta alam akan menjawab 'ya' dellila..."

"aku yakin dellila, cinta itu selalu kebetulan, aku dan kamu akan selalu dipertemukan dengan cara-cara kebetulan yang tidak akan kita perkirakan, entah itu kapan, yang jelas Allah sudah menyiapkan kebetulan-kebetulan itu dellila..."

"dellila, aku tahu sekarang belum pantas, tapi beri aku sedikit waktu untuk memantaskan diri, memapankan diri, menjadi orang yang memang layak untuk mendapatkan senyuman mu menjadi halal bagiku, sabarlah dellila..."

azan subuh mengaung diudara pagi itu, ya sudah subuh, bhumi segera menghapus air mata harunya, bersiap menuju masjid kesayangannya itu...

"sabarlah delilla..." desis bhumi sambil tersenyum

*belajar menulis, terinspirasi dari mbak pita, walaupun ceritanya berbeda hehe


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jika tidak ada acount silahkan pilih anonim,lalu ketik nama setelah komentar .