"woi ren, liat deh tampang lo, kusut gitu, sedih banget dari kemaren, kenapa sih?" ucap Bhumi sambil mengacak ngacak rambut Renna sahabatnya yang masih khusyuk melakukan ritual siangnya
"iiihh, apasih Bhumiii, lo tuh udah ganggu tidur siang gue tau, bonus hujan lagi, ini ritual penting bagi gue" jawab Renna sambil menarik kembali selimutnya
Bhumi beranjak berdiri menuju jendela kamar Renna, membuka horden "liat deh, hujan diluar, kalo diibaratkan awan itu adalah hati seseorang, gue yakin pas banget sama elu, lagi mendung"
Renna membalikkan badan membelakangi Bhumi, pura-pura gak denger
"Ren tau gak, lu perhatiin deh, baju yang selalu di rendem di air lama-lama bau nya gak enak, sama Ren, perasaan yang dipendem lama-lama juga bakal jadi penyakit sendiri nanti, yaaaahhh, kalau gak mau cerita ya gak papa sih, ke bawah aja deh, maen PS sama adek lo, Bagus" ucap Bhumi setengah berjalan menuju pintu kamar Renna, belum sempat Bhumi memegang gagang pintu sebuah bantal melayang kepadanya "Bhumiiii tegaaaaa" teriak Renna sambil melempar guling untuk yang kedua.
"eeehh, kenapa gak sekalian lempar aja tuh kasur, nanti gue bisa tidur disini, oya lengkap sama selimut ya" kata Bhumi sambil pasang kuda-kuda mengantisipasi Renna melakukan itu sungguhan.
Raut muka Renna kembali mengerucut, ah Bhumi tau persis apa yang membuat dia segalau itu, sampai-sampai 3 hari tidak masuk kuliah, siapa lagi kalau bukan gara-gara Huda, cowok basket incarannya yang sampai sekarang hanya menggantungkan hubungan mereka. maju tidak, mundur tidak.
"Huda lagi deket sama Devita, kemaren gue liat dia makan berdua di kantin kampus selepas Huda latihan basket, tapi hubungan gue sama dia gak berubah, kadang perhatian, kadang cuek, maunya apa sih " ucap Renna sambil merubah posisinya menjadi duduk melihat jendela, melihat hujan
Bhumi langsung beranjak mengambil jaket Renna di lemari nya, dan langsung menarik tangan Renna "yuk ikut gue Ren, gue mau nunjukin sesuatu buat lu"
"eh gue masih acak2an gini mau kemana gilee lu, ini namanya penculikan tau " ucap Renna bingung. ia masih memakai baju tidur bergambar hello kitty kebesaran kesayangannya, "udaah, ikut ajaaa, yuk" ucap Bhumi sambil memakaikan jaket dan menyeret Renna kedalam mobil
sampailah Bhumi di rumah kecil, didepannya hampir dipenuhi air akibat hujan, terlihat beberapa anak kecil keluar dari rumah itu sambil loncat-loncat sudah hapal mobil itu milik kak Bhumi yang sering bermain dan bercerita bersama mereka
"yuk turun" ucap Bhumi sambil nyengir . Renna masih bingung apa maksud penculikan sahabatnya itu, kenapa Bhumi membawa ia ke tempat seperti ini
"kak Bhumiiiii, kak Bhumiiii, ayooo maiiin, ayoo cerita lagi kak, kemarin kan ceritanya masih bersambung, aku penasaran sama cerita khidzan yang kakak ceritakan kemarin, ayoo kaak" teriak seorang bocah cilik sambil menggandeng tangan Bhumi setengah menarik ke dalam rumah
"iyaaa, sabaaarr, kakak bawa temen nih, dia jago sekali bercerita loh, kenalin nih namanya kak Renna" ucap Bhumi sambil menggeret Renna kedepan anak-anak yatim piatu tersebut.
"halooo kak Rennaaaa" sapa anak-anak
"yuk culik aja nih kak Renna nya kedalam, nanti kak Renna akan bercerita dongeng ya" kata Bhumi sambil meringis karena cubitan andalan Renna karena bingung akan cerita apa .
tanpa basa basi anak-anak langsung menarik Renna duduk dan membuat lingkaran menunggu Renna bercerita dongeng.
Bhumi tahu, Renna memang sangat pintar bercerita, Bhumi pun ikut mendengarkan Renna bercerita, rintik hujan seakan menjadi backsound yang syahdu untuk ceritanya, anak-anak serius mendengarkan, walaupun dengan baju hello kitty nya, dia tetap menjadi makhluk yang paling menarik perhatian saat itu. hujan sore itu pun berhenti perlahan, matahari senja menghempaskan siluet indah daun yang masih rindu akan belaian kasih sayang air hujan itu. mereka pun pulang, raut muka Renna mulai menyenangkan, setidaknya tidak seseram tadi
"lu tau kan Ren maksud gue ngajak lu kesitu tadi?" ucap Bhumi memecah keheningan sambil menyetir
Renna hanya diam tidak menjawab, ia masih menikmati suatu kebahagiaan, kebahagiaan sesungguhnya yang jarang sekali dia daptkan selama ini, kebahagiaan indahnya berbagi
"liat deh Ren, mereka semua gak punya orang tua, gak punya tempat tinggal, bahkan beberapa diantara mereka juga ada yang cacat tidak memiliki kaki, tapi mereka gak punya alasan untuk gak ngelanjutin hidup, mereka gak bisa memilih untuk memiliki orang tua, tempat tinggal, tapi mereka masih bisa memilih untuk mensyukuri hidup, memilih untuk tertawa, apa mereka punya alasan untuk memaki Tuhan? galau? lu bisa liat sendiri lah, mereka bisa tertawa bahagia hanya dengan dongeng, hanya dengan cerita, mereka gak minta macem-macem, sesederhana itu, sesederhana cerita lu tadi Ren" ucap Bhumi
dada Renna sesak mendengarnya, matanya mulai panas, seakan akan air yang membendung di matanya sudah ingin membanjiri pipinya
"Ren, seharusnya mereka yang lebih berhak galau dibanding lu, lu masih punya orang tua, rumah pun besar, paras lu cantik, tapi masa gara-gara seorang Huda playboy itu lu jadi galau" Bhumi menambahkan
lumer sudah air mata yang telah sekuat tenaga Renna bendung dari tadi, ia menoleh kearah jendela, seakan akan tidak mau tangisannya dilihat oleh Bhumi, sahabatnya itu
"kalo mau nangis, nangis aja Ren, tapi abis itu gak ada kata-kata "galau karena playboy basket" itu" ucap bhumi sambil menyodorkan tisu ke arahnya
"ma..ka..sih.. ya Bhumi..." ucap Renna sambil mencoba tersenyum ditengan isak tangisnya
suasanya kembali hening, jalan itu sepi, hanya ditemani radio dan sisa gerimis air hujan dan air mata Renna.
"eh, lu tuh memang sahabat gue paling nyebelin yaa Bhum, udah nyulik gue dari ritual siang gue, terus buat gue nangis lagii" ucap Renna sambil meninju lengan Bhumi
"haha, liat muka lu nangis sumpah jelek banget tau, hahahaha" tawa mereka meledak...
"gimana kalau kita makan somay wak di stadion? laper nih, nangis menghabiskan separuh tenaga gue, tapi tetep elu yang traktir, kan elu yang buat gue nangis !" ucap Renna
"ah, sial luuu"
Kamis, 30 Agustus 2012
Minggu, 26 Agustus 2012
hikmah subuh
Seperti biasa, pagi itu Bhumi sudah terjaga, menunggu
panggilan paling syahdu dari rumah Allah, sayup sayup terdengar alunan
panggilan yang menyejukkan siapapun yang mendengarnya, langit pun akan diam
khusyuk, ayam pun tak berani lancing berkokok, tapi lihatlah banyak manusia
yang acuh, padahal jika mereka tahu akan manfaatnya dengan merangkak pun mereka
akan rela,
Tapi ada yang aneh, adzan masjid dekat rumah belum juga
berkumandang, “ah yasudah, aku saja yang azan” pikir bhumi sambil memakai baju
koko putih lebaran nya.
Hari ini hari pertama setelah idul fitri kemarin, masih
banyak warga yang pulang ke kampung halamannya, begitupun dengan penjaga
masjid, “yah, kalau gini mah sholat sendiri” pikir Bhumi setelah adzan
dikumandangkan selesai
Tiba-tiba pintu belakang masjid terbuka, dan lihat seorang
nenek yang memang biasa amat rajin pergi ke masjid itu sejak Bhumi masih kecil,
nenek khadijah orang sini memanggilnya.
5 menit, 10 menit belum ada yang datang juga, “Bhumi, sudah
kita mulai saja sholatnya”
Bhumi tersentak, ah, nenek Khadijah masih menghapal namaku,
memang mereka bertetangga tapi jarang sekali bertemu selain di masjid tersebut,
sepulangnya dari masjid tersebut nenek berjalan disamping Bhumi,
“Bhumi, gimana sekolah mu nak?” ucap nenek
“oh, alhamdulilllah lancar nek, minta doanya nek tahun depan
InsyaAllah Bhumi selesai” balas Bhumi sambil tersenyum
“iya, pasti nenek doakan nak” jawab nenek
“disini memang seperti ini, tadi nenek setelah sholat
tahajud berencana untuk sholat sendiri dirumah, karena nenek tahu bahwa habis
lebaran seperti ini pasti tidak ada jamaah di masjid kita itu, semua pada pergi
ke kampong halaman nya masing-masing, tapi alhamdulillah tadi sebelum sholat
kamu adzan nak, jadi nenek bisa sholat berjamaah dimasjid, bisa mendapatkan 27
kali lipat pahalanya” ucap nenek
“Oh iya nek” Bhumi tertunduk
Bhumi tersentak, entah apa yang ada di benak nya, malu lebih
tepatnya, dia yang masih 21 tahun saja terkadang masih sholat di rumah, masih
sering menunda shalat, masih sering malas pergi ke masjid. Lihatlah masjid itu
rindu akan kesetiaan jamaah nya selama bulan ramadhan, dia menangis, kemana
jamaah setia ku yang biasanya sholat berjamaah disini? dimana jamaah ku yang
biasanya melantunkan ayat al quran disini selama ramadhan itu? dimana para jamaah
yang rajin menunggui adzan maghribku ?
Oh dear, kalian yang masih muda, yang masih terlelap dikala
adzan subuh dikumandangkan, apa kalian tidak malu? Ah, seandainya kalian tahu,
jejak kalian di pagi buta itu akan menjadi saksi di hari akhir nanti, ketika
mulut kalian tidak bisa menjadi saksi.
Oh dear, kalian yang masih muda, kalian tahu apa nikmat yang
paling sering dilupakan? Nikmat sehat dan waktu luang, kalian masih bugar, apa
kalian tidak malu dengan nenek khadijah? Jalannya pun sudah tertatih tapi
sangat rajin pergi ke masjid.
“Ah, terimakasih atas hikmah di subuh ini Tuhan, yang aku
tahu, ketika aku berjalan menuju Mu, Engkau akan berlari menuju Ku, ijinkan aku
untuk selalu mencintai Mu dengan sepenuh hati, menapaki jejak yang rosul Mu
dulu telah lakukan, menjadi semanfaat manfaatnya umat” ucap Bhumi dalam hati
Sabtu, 04 Agustus 2012
narsis KKN
ngajar di MTs, lebih susah dibanding ngajar di SD
pokoknya setiap ketemu anak kecil wajib foto bareng ! :D
UNIT 106, subunit 2 !
Akhirnya bisa foto di grand canyon nya, subhanAllah deh ^^
pasukan permen hot hot pop !
makan nasi liwet buatan fadil di pondokan, romantis abis !
ditengah sawah bersama three masketir !
biasanya kalo ngobrol sama si wimas ngomongin tentang agama dan jodoh, maklum do'i ustad nya unit 106 ^^
sebelum makan bareng di sawah, salah kostum, malah pake celana bunga bunga ,ouch
Sepenggal kisah KKN #3
Lagi tebak-tebakan di kelas tentang cerita Nabi
Saya : hayooo, nabi Nuh membuat apa untuk menyelamatkan
umatnya pada zamannya?
Anak-anak : kapaaaaaaal (jawab serempak)
Saya : betul *senyum
Salah satu anak : kak kak, coba tebak, sebesar apa kapal
nabi Nuh?
Saya : sebesar gunung
Salah satu anak : yeeee salaaah, sebesar stadion senayan
*hening
Disuruh ngisi biodata sama adek-adek yang rela dating ke
pondokan
Adek-adek : nih kak isi biodata kakak, contohnya kayak gini
*sambil ngasih selembar kertas biodata pink bergambar kartun boneka unyu
Saya : oh ya sini, kakak liat
Pas sampe di bagian “tempat tanggal lahir”
Tempat : ciamis
tanggal : -
lahir : Alhamdulillah dengan selamat
*hening
Pas lagi ngajar dikelas
Saya : hayooo, udah jelas kan? Ada yang mau ditanya gak?
Salah satu anak : kak, udah punya istri belum?
*hening
Pas lagi selesai sholat ketemu bapak bapak di masjid
Si Bapak : jang, ti mana? (dek dari mana?)
Saya : saya dari kkn UGM pak, dari jogja, hehe
Si Bapak : oh, disini sesasi nyak? (disini sebulan ya?)
*Kedengeran ditelinga : oh, disini di tasik nyak?
Saya : oh, bukan pak, di ciamis
*muka bapaknya bingung, muka saya penuh yakin jawabannya
bener
Pas pertama kali ngajar di SD
Saya : hayooo udah pada kenal sama kakak belum ?
Anak-anak : beluuuuuummm *ya iyalah kan baru pertama kali
Saya : tebak coba siapa namanya?
Anak-anak : Suju…smash…
*langsung benerin poni, keburu mereka belum nyebut “vokalis
kangen band”
Lagi di pondokan ada ibu-ibu tetangga sebelah dating
Si ibu : jang, kalau mau kelapa sok atuh ambil tuh (dek,
kalau mau kelapa ambil aja tuh)
Saya : oh ya bu, muhun *langsung ngambil golok
Bertiga sama temen langsung ke pohonnya, gak terlalu tinggi
lah, kami pun saling menatap, mata kami bertemu, satu, dua detik
Saya : yaudah aku yang naik *muka optimis
Si ibu : jang, kalau mau dapet orang bandung harus bisa naik
pohon kelapa hahaha
Saya : oh ya bu ! *tambah semangat
Dengan muka optimis langsung manjat, mereka pun menyemangati
Nyampe tiga per empat pohon…dan nyerah, akhirnya turun
*sudahlah dapat orang magelang aja, paling harus bisa manjat
pohon jambu, hehe
Senin, 30 Juli 2012
sepenggal kisah KKN #2
salah satu yang paling harus adaptasi disini adalah syariat ibadahnya, jujur pertama kali saya ikut tarawehan disini saya menangis, bukan karena jumlah rakaat yang terlalu banyak, bukan sama sekali, tapi karena bacaan shalat yang sangat cepat
jujur, saya sama sekali tidak khusyuk, selalu tertinggal bacaannya, alfatihah nya hanya satu nafas, tarawih 23 rakaat hanya ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit, itu pun sudah termasuk shalat isya,
memang perlu adaptasi, yah sekarang sudah mulai terbiasa,
dengan zikir berbunyi setelah shalat,
dengan shaf yang jarang jarang,
zuhur dan ashar pun karena penduduk masih di sawah jadi tidak ada berjamaah di masjid (azan sendiri, shalat sendiri) *sedihhh
saya memilih diam walau itu adalah kadar iman terendah, yah mungkin sudah menjadi budaya disini
ingin sekali ibadah nya lebih baik ramadhan tahun ini dibanding tahun lalu,
ingin sekali menikmati al fatihah seperti di nurul ashri, mengartikan dalam hati ayat demi ayat,
sudah tarawih keliling, setiap masjid rata rata syariat nya sama
yah, semoga terbiasa, semoga kualitas ibadah ramadhan tahun ini lebih baik,
tuntun hambaMu yang lemah ini ya Rabb
jujur, saya sama sekali tidak khusyuk, selalu tertinggal bacaannya, alfatihah nya hanya satu nafas, tarawih 23 rakaat hanya ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit, itu pun sudah termasuk shalat isya,
memang perlu adaptasi, yah sekarang sudah mulai terbiasa,
dengan zikir berbunyi setelah shalat,
dengan shaf yang jarang jarang,
zuhur dan ashar pun karena penduduk masih di sawah jadi tidak ada berjamaah di masjid (azan sendiri, shalat sendiri) *sedihhh
saya memilih diam walau itu adalah kadar iman terendah, yah mungkin sudah menjadi budaya disini
ingin sekali ibadah nya lebih baik ramadhan tahun ini dibanding tahun lalu,
ingin sekali menikmati al fatihah seperti di nurul ashri, mengartikan dalam hati ayat demi ayat,
sudah tarawih keliling, setiap masjid rata rata syariat nya sama
yah, semoga terbiasa, semoga kualitas ibadah ramadhan tahun ini lebih baik,
tuntun hambaMu yang lemah ini ya Rabb
Rabu, 11 Juli 2012
sepenggal kisah KKN #1
di tempat KKN lagi beli pulsa sama si indy tiba tiba ada adek bayi kecil lucu pipinya tembem, langsung deh aku gendong, tanpa basa basi langsung masang muka manis, "aloooo adeekk, namanya siapa? yukkk yuukk" sambil menengadahkan tangan ke arahnya, lagi digendong sama bibi nya kalao gak salah,
anteeeeeeng banget, mungkin karena anget karena aku pake jaket kulit tebel, umurnya baru 5 bulan, jadi agak hati hati gendongnya, hehe
dan tiba tiba ibunya dateng, masih muda, yaa sekitar 20 tahunan lah, karena disini umur 18 tahun juga udah banyak yang nikah, *kalah cepet
ibu : eh, anteng pisan euyy, hayooo, saha eta saha eta (yang artinya siapa itu siapa itu)? *sambil ngomong ke bayinya
aku : hehe iya nih, anteng pisan euy *sambil senyum manis
ibu : iya , anteng euy, hehehe
aku : iya nih *kembali menikmati gendong anak kecil
ibu : eh, mirip bapaknya euy *sambil senyum ke arahku
nah loh ! *hening
*si indy nahan ketawa sampe mukanya merah *aku? terpaku...
anteeeeeeng banget, mungkin karena anget karena aku pake jaket kulit tebel, umurnya baru 5 bulan, jadi agak hati hati gendongnya, hehe
dan tiba tiba ibunya dateng, masih muda, yaa sekitar 20 tahunan lah, karena disini umur 18 tahun juga udah banyak yang nikah, *kalah cepet
ibu : eh, anteng pisan euyy, hayooo, saha eta saha eta (yang artinya siapa itu siapa itu)? *sambil ngomong ke bayinya
aku : hehe iya nih, anteng pisan euy *sambil senyum manis
ibu : iya , anteng euy, hehehe
aku : iya nih *kembali menikmati gendong anak kecil
ibu : eh, mirip bapaknya euy *sambil senyum ke arahku
nah loh ! *hening
*si indy nahan ketawa sampe mukanya merah *aku? terpaku...
Kamis, 05 Juli 2012
dari Bhumi untuk mu Dellila
Dellila, dulu ketika aku masih remaja tanggung, aku sering sekali jatuh cinta, pada teman sekelas yang paling cantik rupa nya, aku sering sekali jatuh cinta, dia sang gadis pujaan hati segalanya terlihat begitu sempurna dimataku, melihat punggungnya dari jauh sudah senang sekalli rasanya
rasa ingin memiliki, ya dahulu aku tidak mau tahu, dia harus menjadi milikku, tak ada yang boleh memilikinya, tak satupun Dellila
sampai pada saat aku beranjak dewasa,
aku pun tertunduk malu dengan keteranganku sendiri tentang cinta
sejak aku mengenalmu, mulai dari tulisan mu
ah, adam mana yang tidak meleleh membaca tulisanmu?
sekarang aku mengerti Dellila,
aku belajar, bahwa cinta selalu sederhana, hanya soal meng 'ikhlas' kan bukan?
ya, hanya soal meng 'ikhlas' kan
sederhana sekali ya?
ya, semenjak aku mengenalmu, aku belajar bahwa, cinta tidak hanya untuk sang gadis pujaan yang labil setengah mati itu
cinta itu untuk orang terkasih di sekeliling kita, ayah, ibu, saudara
Dellila,
aku ingin mencintaimu dengan sesederhana itu
meng'ikhlas'kan nama panjang mu aku lantunkan di setiap doa sepertiga malamku
ku ulangi 3 kali namamu, agar Tuhan ingat
karena ketika semakin aku mencintaimu, semakin kuat rasa ikhlas itu
biarlah Tuhan yang menggandeng cerita kita kelak
kau terlalu fitrah untuk dimiliki dengan cara-cara 'itu' Delilla
mulutku terlalu bisu untuk jujur kepadamu
biarkanlah aku mengikhlaskan mu di tangan Tuhan
dan biarkan aku merayu Tuhan untuk mentakdirkan 'kebetulan-kebetulan' jalan kita
merayu Tuhan untuk selalu diijinkan mencintaimu karena Nya
merayu Tuhan untuk diberikan kekuatan sabar
merayu Tuhan untuk membantuku mempantaskan diri
oh ya, salam buat Lala, adimu
dia cantik, bahkan lebih cantik daripada kau Dellila ^^
rasa ingin memiliki, ya dahulu aku tidak mau tahu, dia harus menjadi milikku, tak ada yang boleh memilikinya, tak satupun Dellila
sampai pada saat aku beranjak dewasa,
aku pun tertunduk malu dengan keteranganku sendiri tentang cinta
sejak aku mengenalmu, mulai dari tulisan mu
ah, adam mana yang tidak meleleh membaca tulisanmu?
sekarang aku mengerti Dellila,
aku belajar, bahwa cinta selalu sederhana, hanya soal meng 'ikhlas' kan bukan?
ya, hanya soal meng 'ikhlas' kan
sederhana sekali ya?
ya, semenjak aku mengenalmu, aku belajar bahwa, cinta tidak hanya untuk sang gadis pujaan yang labil setengah mati itu
cinta itu untuk orang terkasih di sekeliling kita, ayah, ibu, saudara
Dellila,
aku ingin mencintaimu dengan sesederhana itu
meng'ikhlas'kan nama panjang mu aku lantunkan di setiap doa sepertiga malamku
ku ulangi 3 kali namamu, agar Tuhan ingat
karena ketika semakin aku mencintaimu, semakin kuat rasa ikhlas itu
biarlah Tuhan yang menggandeng cerita kita kelak
kau terlalu fitrah untuk dimiliki dengan cara-cara 'itu' Delilla
mulutku terlalu bisu untuk jujur kepadamu
biarkanlah aku mengikhlaskan mu di tangan Tuhan
dan biarkan aku merayu Tuhan untuk mentakdirkan 'kebetulan-kebetulan' jalan kita
merayu Tuhan untuk selalu diijinkan mencintaimu karena Nya
merayu Tuhan untuk diberikan kekuatan sabar
merayu Tuhan untuk membantuku mempantaskan diri
oh ya, salam buat Lala, adimu
dia cantik, bahkan lebih cantik daripada kau Dellila ^^
dari Bhumi
untuk Dellila
Rabu, 04 Juli 2012
dari Bhumi untuk adikku Lala
"Lala, kakak yakin suatu hari nanti kamu akan menjadi perempuan hebat,
sekuat layaknya bunda Hajar yang berlari tujuh kali antara bukit Safa dan Marwah, demi mencari air untuk anaknya nabi ismail di tengah gurun yang panas
sesabar layaknya bunda Maryam yang diamanahkan nabi Isa di rahimnya, karena kesalihannya, kecintaannya, ketulusannya dalam beribadah"
"Lala, kelak kalau kau sudah besar nanti,
kau akan mengerti mengapa orang-orang itu rela bangun di sepertiga malam ditengah orang lain yang sedang tertidur,
kau akan mengerti mengapa orang-orang itu rela menembus dinginnya subuh untuk pergi shalat berjamaah di masjid,
kau akan mengerti mengapa imam itu sering menangis ketika membaca surat al-fatihah di shalatnya,
kau akan mengerti mengapa mereka berbuat seperti itu Lala"
"Lala, kelak kalau kau sudah besar nanti,
kau akan lebih menikmati surat pendek yang lebih panjang yang dilantunkan imammu di shalat maghrib mu itu
kau akan lebih menikmati memberikan sebagian uang saku mu demi mereka yang membutuhkan dibandingkan menonton film kesukaan mu di bioskop
kau akan lebih menikmati pergi ke pengajian dibandingkan pesta ulang tahun teman mu itu
kau akan lebih menikmati membaca al-quran dibandingkan novel-novel cinta anak muda itu"
"kakak pergi sejenak Lala, ada tugas di luar kota, jangan nakal ya, nanti kakak bawa oleh-oleh yang banyak deh, okee :)"
"oh ya, salam saja untuk kakak mu Dellila, kakak belum sempat bertemu dengannya, kau mengerti apa arti 'salam' kan Lala? haha"
sekuat layaknya bunda Hajar yang berlari tujuh kali antara bukit Safa dan Marwah, demi mencari air untuk anaknya nabi ismail di tengah gurun yang panas
sesabar layaknya bunda Maryam yang diamanahkan nabi Isa di rahimnya, karena kesalihannya, kecintaannya, ketulusannya dalam beribadah"
"Lala, kelak kalau kau sudah besar nanti,
kau akan mengerti mengapa orang-orang itu rela bangun di sepertiga malam ditengah orang lain yang sedang tertidur,
kau akan mengerti mengapa orang-orang itu rela menembus dinginnya subuh untuk pergi shalat berjamaah di masjid,
kau akan mengerti mengapa imam itu sering menangis ketika membaca surat al-fatihah di shalatnya,
kau akan mengerti mengapa mereka berbuat seperti itu Lala"
"Lala, kelak kalau kau sudah besar nanti,
kau akan lebih menikmati surat pendek yang lebih panjang yang dilantunkan imammu di shalat maghrib mu itu
kau akan lebih menikmati memberikan sebagian uang saku mu demi mereka yang membutuhkan dibandingkan menonton film kesukaan mu di bioskop
kau akan lebih menikmati pergi ke pengajian dibandingkan pesta ulang tahun teman mu itu
kau akan lebih menikmati membaca al-quran dibandingkan novel-novel cinta anak muda itu"
"kakak pergi sejenak Lala, ada tugas di luar kota, jangan nakal ya, nanti kakak bawa oleh-oleh yang banyak deh, okee :)"
"oh ya, salam saja untuk kakak mu Dellila, kakak belum sempat bertemu dengannya, kau mengerti apa arti 'salam' kan Lala? haha"
dari Bhumi
untuk adikku Lala
^^
Senin, 02 Juli 2012
"wanita memang mulia adikku Lala" :)
"Kaaakkk Bhumiii....." Lala berlari sambil menangis, memeluk pinggang Bhumi yang sedang berjalan seusai shalat ashar di masjid dekat rumahnya
"lho, kenapa sayang? kok kamu menangis?" Bhumi berlutut, mengusap air mata Lala yang keluar, air mata seorang gadis kecil memang terlalu berharga, air mata cerminan masa depan yang lebih baik
"kak Arif jahat, kak Arif jahat kak Bhumii !!" bentak Lala sambil menghentakkan kakinya ketanah
"hmm..Lala kok ngomongnya gitu, yuk duduk dulu, jangan menangis di tengah jalan Lala" Bhumi menggandeng tangan Lala yang masih menangis, tangan kanannya memegang tangan Bhumi, tangan kirinya masih mengusap usap air matanya yang menetes
Bhumi mengajaknya duduk di teras masjid, sore itu Lala masih menggunakan mukena pink kesukaannya sehabis shalat ashar berjamaah di masjid nurul ashri dekat rumah nya, hadiah ulang tahun dari kakaknya, Delilla
"Hayoo, sekarang cerita Lalanya, kenapa kok nangis begitu? sini sini cerita sama kakak yaa" kata Bhumi sambil mengusap air mata Lala yang tidak berhenti
"nah, kalau Lala menangis seperti itu bagaimana mau cerita, yaudah kalau Lala menangis , kakak tungguin deh sampai Lala diam" isakan tangis Lala mulai berhenti, Bhumi pun langsung mengusap tangisan Lala dengan kedua tangannya
"nah, sekarang Lala cerita ya, kakak siap dengerin, kakak janji" ucap bhumi sambil tersenyum
"kak Bhumi, kak Arif jahat sama Lala, tadi Lala sengaja berangkat lebih awal untuk pergi ke masjid, Lala pengen sekali sekali azan di masjid, Lala pengen manggil teman-teman Lala yang sedang tidur siang lewat azan masjid yang lala kumandangkan kak, tapi tiba-tiba kak Arif datang dan Lala gak boleh azan, kak Arif jahat kak, jahat!" Lala kembali menangis, kali ini Bhumi memeluknya tanpa kata, erat sekali, mata Bhumi pun ikut berkaca-kaca
betapa tidak, seorang gadis kecil yang polos ini, gadis kecil yang sedang menangis dipelukannya ini memiliki niat yang mulia, "Lala pengen manggil teman-teman Lala yang sedang tidur siang lewat azan masjid yang lala kumandangkan kak" kata-kata itu terus terdengar ditelinga Bhumi
"Lala adikku sayang, sungguh niat mu itu tulus sekali sayang, tapi ada satu hal yang harus kamu tau sayang, setiap manusia memiliki batas kodratnya masing masing sayangku, selama masih ada lelaki, Lala tidak boleh azan di masjid, selama masih ada lelaki, Lala tidak boleh jadi imam sholat, itu tugas lelaki sayang" jawab Bhumi
"Lantas, kenapa wanita selalu dibedakan kak? kenapa ? selalu di nomor dua-kan kak? bukannya setiap manusia sama kak?" Lala melepas pelukan Bhumi dan membelakangi Bhumi, sedikit memasang muka cemberut, ya gaya nya ketika sedang ngambek
Bhumi tersenyum, "Lala, sini deh kakak mau cerita, sini tapi senyum dulu dong, hehe"
Lala pun membalikkan badannya dan masih sedikit cemberut, "mau cerita apa kak?" katanya
"Lala adikku sayang, Lala percaya gak kalau kakak bilang wanita itu 3 kali lebih mulia dibandingkan pria?" ucap Bhumi sambil tersenyum
"terus, kenapa kalau lebih mulia kok apa-apa gak boleh kak?apa apa pria, sedikit sedikit laki laki, huhhh !!" balas Lala penasaran
"coba deh liat ibunda Lala, seorang ibu rumah tangga, mungkin orang lain diluar bilang kalau profesi ibunda Lala gak keren, tapi menurut kakak tidak, seorang ibu rumah tangga menurut kakak adalah profesi yang paling berat dan laki-laki manapun tidak akan bisa melakukannya, lihatlah ibunda Lala, mungkin saja kalau beliau memilih untuk bekerja dan berkarir, karirnya mungkin lebih baik daripada bapak, gajinya lebih tinggi, tapi apa yang beliau pilih adikku sayang? beliau memilih untuk jadi iburumah tangga, demi mendukung penuh karir bapak dari belakang, ingin selalu menyambut dengan manisnya teh hangat dikala bapakmu pulang dari kantor, demi memiliki waktu untuk menggendong mu dikala kamu masih belum bisa berjalan sayang, karena dia tidak ingin kehilangan satu detik pun masa masa lucu dikala kamu balita, ah, bukankah itu membutuhkan suatu kekuatan sayangku? mengorbankan ambisinya untuk orang-orang tersayang nya, itu lah, itulah hebatnya perempuan adikku yang manis"
"suatu hari kelak, ketika kamu dewasa, kamu boleh sayang memiliki pendapat yang berbeda, kamu akan tumbuh belajar banyak, kamu boleh memiliki pendapat yang berbeda dengan kakak" ucap Bhumi
Lala masih terdiam, tatapannya kosong meng "iya" kan
"Lala, lihatlah, bayi yang berumur 6 bulan pun akan terdiam dari tangisannya apabila di gendong oleh seorang ibunda, dia tahu yang menggendongnya adalah orang yang mulia, karena bagaimanapun juga akhlak mulia akan ditukar dengan wajah yang menyenangkan, ya cahaya Tuhan yang diwariskan di wajahnya, di wajah ibu salah satunya adikku sayang"
"Lala, suatu hari kelak mungkin kamu akan memiliki perbedaan pendapat di keluarga, berdebat dengan kakak atau bapakmu, tapi satu hal pesan ku Lala sayang, jangan sekalipun menyakiti hati ibumu, walaupun hanya mengatakan 'ah' , jangan sekalipun sayang " ucap Bhumi
"satu hal lagi sayangku, aku ingin membuktikan betapa perkasanya seorang wanita, lihatlah seorang pria sejati, ayah sejati, seberani apapun dia, sekuat apapun dia, selalu akan tunduk lemah didepan wanita yang disayanginya, entah itu ibundanya, istrinya, atau anak perempuannya. jadi jangan lagi menangis didepan ayahmu ya sayang" Bhumi menambahkan
Lala kemudian tersenyum, dan memeluk Bhumi, "terimakasih ya kak, Lala sekarang jadi ngerti, Lala sayang kakak"
Bhumi terdiam, membalas pelukan adik kecilnya itu dengan hangat
"eh, Lala mau es krim?" ucap Bhumi
"mauuuuuu, asiiiikkkkkk" balas Lala kegirangan
"yasudah, yuk beli es krim, tapi pulang dulu, Lala mandi dulu, kakak juga masih pakai sarung, masa ke supermarket pakai sarung, nanti dikira abis sunat, hehehe" Bhumi becanda
"okee, kaak, gendooongggg !" Lala nyengir
"haha, dasar kamu adik manja, yukkk, upssss, uhh beratnya nih bocah cilik haha" Bhumi pun menggendong adik kecilnya itu dipunggungnya, pulang...
jejak jejak mereka mulai menghilang, menyisakan siluet siluet indah belaian sayang dari sinar senja sore itu, tulus sekali, seperti tulusnya kasih sayang ibunda kepada anaknya
"adikmu merindukanmu Dellila, lekaslah pulang" dalam hati Bhumi
"oh, ternyata aku juga sama Dellila, seperti yang dirasakan adikmu, masjid ini saksinya, doa yang menggantung di masjid ini lebih tepatnya " Bhumi menambahkan
"lho, kenapa sayang? kok kamu menangis?" Bhumi berlutut, mengusap air mata Lala yang keluar, air mata seorang gadis kecil memang terlalu berharga, air mata cerminan masa depan yang lebih baik
"kak Arif jahat, kak Arif jahat kak Bhumii !!" bentak Lala sambil menghentakkan kakinya ketanah
"hmm..Lala kok ngomongnya gitu, yuk duduk dulu, jangan menangis di tengah jalan Lala" Bhumi menggandeng tangan Lala yang masih menangis, tangan kanannya memegang tangan Bhumi, tangan kirinya masih mengusap usap air matanya yang menetes
Bhumi mengajaknya duduk di teras masjid, sore itu Lala masih menggunakan mukena pink kesukaannya sehabis shalat ashar berjamaah di masjid nurul ashri dekat rumah nya, hadiah ulang tahun dari kakaknya, Delilla
"Hayoo, sekarang cerita Lalanya, kenapa kok nangis begitu? sini sini cerita sama kakak yaa" kata Bhumi sambil mengusap air mata Lala yang tidak berhenti
"nah, kalau Lala menangis seperti itu bagaimana mau cerita, yaudah kalau Lala menangis , kakak tungguin deh sampai Lala diam" isakan tangis Lala mulai berhenti, Bhumi pun langsung mengusap tangisan Lala dengan kedua tangannya
"nah, sekarang Lala cerita ya, kakak siap dengerin, kakak janji" ucap bhumi sambil tersenyum
"kak Bhumi, kak Arif jahat sama Lala, tadi Lala sengaja berangkat lebih awal untuk pergi ke masjid, Lala pengen sekali sekali azan di masjid, Lala pengen manggil teman-teman Lala yang sedang tidur siang lewat azan masjid yang lala kumandangkan kak, tapi tiba-tiba kak Arif datang dan Lala gak boleh azan, kak Arif jahat kak, jahat!" Lala kembali menangis, kali ini Bhumi memeluknya tanpa kata, erat sekali, mata Bhumi pun ikut berkaca-kaca
betapa tidak, seorang gadis kecil yang polos ini, gadis kecil yang sedang menangis dipelukannya ini memiliki niat yang mulia, "Lala pengen manggil teman-teman Lala yang sedang tidur siang lewat azan masjid yang lala kumandangkan kak" kata-kata itu terus terdengar ditelinga Bhumi
"Lala adikku sayang, sungguh niat mu itu tulus sekali sayang, tapi ada satu hal yang harus kamu tau sayang, setiap manusia memiliki batas kodratnya masing masing sayangku, selama masih ada lelaki, Lala tidak boleh azan di masjid, selama masih ada lelaki, Lala tidak boleh jadi imam sholat, itu tugas lelaki sayang" jawab Bhumi
"Lantas, kenapa wanita selalu dibedakan kak? kenapa ? selalu di nomor dua-kan kak? bukannya setiap manusia sama kak?" Lala melepas pelukan Bhumi dan membelakangi Bhumi, sedikit memasang muka cemberut, ya gaya nya ketika sedang ngambek
Bhumi tersenyum, "Lala, sini deh kakak mau cerita, sini tapi senyum dulu dong, hehe"
Lala pun membalikkan badannya dan masih sedikit cemberut, "mau cerita apa kak?" katanya
"Lala adikku sayang, Lala percaya gak kalau kakak bilang wanita itu 3 kali lebih mulia dibandingkan pria?" ucap Bhumi sambil tersenyum
"terus, kenapa kalau lebih mulia kok apa-apa gak boleh kak?apa apa pria, sedikit sedikit laki laki, huhhh !!" balas Lala penasaran
"coba deh liat ibunda Lala, seorang ibu rumah tangga, mungkin orang lain diluar bilang kalau profesi ibunda Lala gak keren, tapi menurut kakak tidak, seorang ibu rumah tangga menurut kakak adalah profesi yang paling berat dan laki-laki manapun tidak akan bisa melakukannya, lihatlah ibunda Lala, mungkin saja kalau beliau memilih untuk bekerja dan berkarir, karirnya mungkin lebih baik daripada bapak, gajinya lebih tinggi, tapi apa yang beliau pilih adikku sayang? beliau memilih untuk jadi iburumah tangga, demi mendukung penuh karir bapak dari belakang, ingin selalu menyambut dengan manisnya teh hangat dikala bapakmu pulang dari kantor, demi memiliki waktu untuk menggendong mu dikala kamu masih belum bisa berjalan sayang, karena dia tidak ingin kehilangan satu detik pun masa masa lucu dikala kamu balita, ah, bukankah itu membutuhkan suatu kekuatan sayangku? mengorbankan ambisinya untuk orang-orang tersayang nya, itu lah, itulah hebatnya perempuan adikku yang manis"
"suatu hari kelak, ketika kamu dewasa, kamu boleh sayang memiliki pendapat yang berbeda, kamu akan tumbuh belajar banyak, kamu boleh memiliki pendapat yang berbeda dengan kakak" ucap Bhumi
Lala masih terdiam, tatapannya kosong meng "iya" kan
"Lala, lihatlah, bayi yang berumur 6 bulan pun akan terdiam dari tangisannya apabila di gendong oleh seorang ibunda, dia tahu yang menggendongnya adalah orang yang mulia, karena bagaimanapun juga akhlak mulia akan ditukar dengan wajah yang menyenangkan, ya cahaya Tuhan yang diwariskan di wajahnya, di wajah ibu salah satunya adikku sayang"
"Lala, suatu hari kelak mungkin kamu akan memiliki perbedaan pendapat di keluarga, berdebat dengan kakak atau bapakmu, tapi satu hal pesan ku Lala sayang, jangan sekalipun menyakiti hati ibumu, walaupun hanya mengatakan 'ah' , jangan sekalipun sayang " ucap Bhumi
"satu hal lagi sayangku, aku ingin membuktikan betapa perkasanya seorang wanita, lihatlah seorang pria sejati, ayah sejati, seberani apapun dia, sekuat apapun dia, selalu akan tunduk lemah didepan wanita yang disayanginya, entah itu ibundanya, istrinya, atau anak perempuannya. jadi jangan lagi menangis didepan ayahmu ya sayang" Bhumi menambahkan
Lala kemudian tersenyum, dan memeluk Bhumi, "terimakasih ya kak, Lala sekarang jadi ngerti, Lala sayang kakak"
Bhumi terdiam, membalas pelukan adik kecilnya itu dengan hangat
"eh, Lala mau es krim?" ucap Bhumi
"mauuuuuu, asiiiikkkkkk" balas Lala kegirangan
"yasudah, yuk beli es krim, tapi pulang dulu, Lala mandi dulu, kakak juga masih pakai sarung, masa ke supermarket pakai sarung, nanti dikira abis sunat, hehehe" Bhumi becanda
"okee, kaak, gendooongggg !" Lala nyengir
"haha, dasar kamu adik manja, yukkk, upssss, uhh beratnya nih bocah cilik haha" Bhumi pun menggendong adik kecilnya itu dipunggungnya, pulang...
jejak jejak mereka mulai menghilang, menyisakan siluet siluet indah belaian sayang dari sinar senja sore itu, tulus sekali, seperti tulusnya kasih sayang ibunda kepada anaknya
"adikmu merindukanmu Dellila, lekaslah pulang" dalam hati Bhumi
"oh, ternyata aku juga sama Dellila, seperti yang dirasakan adikmu, masjid ini saksinya, doa yang menggantung di masjid ini lebih tepatnya " Bhumi menambahkan
Langganan:
Postingan (Atom)


