10. Always (aka. only you)
9. My sassy girl
8. Hello ghost
7. Humming
6. Miracle Of Giving Fool
5. First Love A Little Thing Called Love
4. ATM
3. You're the apple of my eyes
2. Secret
1. A moment to remember
Rabu, 27 Maret 2013
Sabtu, 23 Maret 2013
puisi
cinta itu memikirkan yang dicintai
bukan hanya kemarin dan kini, tapi nanti
mari kita berbicara tentang masa depan
agar hari esok yang dijelang bukan suatu kesengsaraan
ada hal yang jelas harus dipersiapkan
mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindarkan
bila engkau lelaki, engkau harus tau arah saat melangkah
bila engkau perempuan, seharusnya tahu bagaimana bertingkah
kita berbicara masa depan karena dia tak semudah yang diperkirakan pemuda-pemuda yang lalai
juga tak sesulit yang diceritakan perempuan-perempuan yang bercerai
setiap muslimah tentu saja menginginkan lelaki yang bertanggung jawab
yang menghargai kelebihan kebaikannya, dan yang memaafkan kealpaan kekurangannya
muslimah mana yang tidak ingin lelaki berbudi pekerti
baik hati, tinggi iman, dan lurus amal
muslimah selalu menanti lelaki el akhlak pandan rasa
yang memiliki kelembutan dengan anaknya
dengan istrinya dia mesra
muslimah mana yang tidak mendambakan lelaki yang bisa mengawalnya jauh dari neraka
dan membimbingnya menuju surga Allah
lelaki mana yang tidak suka dengan wanita yang cerdik, cendikia dan berparas menawan
yang lisannya seanggun geraknya
lelaki yang baik pasti menyukai wanita yang lemah lembut lagi santun
pintar membahagiakan suami dengan masakan dan perhatian
tidak tamak harta dan selalu menjaga kehormatan
lelaki mana yang tidak memimpikan wanita yang mendukungnya dalam kebaikan dan mengeluarkan kebaikannya
dirindukan bila ditinggal, dan menyenangkan bila berjumpa
sialnya kita hidup dijaman kapitalisme yang mengajarkan lelaki dan wanita masa kini, untuk memperhatikan fisik bukan isi
perhatikan badan bukan iman
-ust felix
bukan hanya kemarin dan kini, tapi nanti
mari kita berbicara tentang masa depan
agar hari esok yang dijelang bukan suatu kesengsaraan
ada hal yang jelas harus dipersiapkan
mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindarkan
bila engkau lelaki, engkau harus tau arah saat melangkah
bila engkau perempuan, seharusnya tahu bagaimana bertingkah
kita berbicara masa depan karena dia tak semudah yang diperkirakan pemuda-pemuda yang lalai
juga tak sesulit yang diceritakan perempuan-perempuan yang bercerai
setiap muslimah tentu saja menginginkan lelaki yang bertanggung jawab
yang menghargai kelebihan kebaikannya, dan yang memaafkan kealpaan kekurangannya
muslimah mana yang tidak ingin lelaki berbudi pekerti
baik hati, tinggi iman, dan lurus amal
muslimah selalu menanti lelaki el akhlak pandan rasa
yang memiliki kelembutan dengan anaknya
dengan istrinya dia mesra
muslimah mana yang tidak mendambakan lelaki yang bisa mengawalnya jauh dari neraka
dan membimbingnya menuju surga Allah
lelaki mana yang tidak suka dengan wanita yang cerdik, cendikia dan berparas menawan
yang lisannya seanggun geraknya
lelaki yang baik pasti menyukai wanita yang lemah lembut lagi santun
pintar membahagiakan suami dengan masakan dan perhatian
tidak tamak harta dan selalu menjaga kehormatan
lelaki mana yang tidak memimpikan wanita yang mendukungnya dalam kebaikan dan mengeluarkan kebaikannya
dirindukan bila ditinggal, dan menyenangkan bila berjumpa
sialnya kita hidup dijaman kapitalisme yang mengajarkan lelaki dan wanita masa kini, untuk memperhatikan fisik bukan isi
perhatikan badan bukan iman
-ust felix
Minggu, 17 Maret 2013
tuai lah "padi", tapi jangan melupakan "rumput" nya
jika alunan musik wedding bell nya depapepe sudah diputar dikamar nomor 9 itu, ada dua kemungkinan, aku sedang membaca atau aku sedang menulis, ya kali ini alunan musik ini menemani jemariku untuk menyenyuh huruf per huruf kata yang ada di laptop untuk mengekspresikan apa yang ada di kepala ini belakangan ini...merangkainya menjadi sebuah cerita, ah semoga bermanfaat..
Hari itu, di masjid nurul ashri, didekat rumahnya, seusai sholat maghrib berjamaah, Bhumi terlihat murung, mukanya tidak secerah biasanya, sedih, pandangan nya lebih banyak kosong, senyuman dari bibirnya pun lebih lebih jarang terlihat, duduk termenung di dekat kolam ikan tempat favoritnya itu, ya biasanya jika sedang jenuh, tempat itu lah yang menjadi favoritnya, hanya untuk sekedar melihat 9 ikan koi besar yang ada didalam kolam yang dihiasi air mancur didalamnya, hanya duduk, entah kemana pikirannya melayang, namun pandangan nya kosong ke depan...bersandar pada sebuah tiang masjid, tempat favoritnya dari dulu...
"Assalamualaikum, Bhum" seorang setengah baya mendatanginya sambil tersenyum, wajah nya sejuk sekali, meneduhkan siapapun yang melihatnya, wajah yang sering dibasuh air wudhu, ah memang, akhlak mulia selalu ditukar dengan wajah yang menyenangkan, biasanya orang didesa nya memanggilnya dengan Mbah Kakung, imam masjid ini
"Waalaikumsalam, mbah" wajah Bhumi serontak kaget, namun segera tangan nya menyalami tangan mbah sambil mencium nya
suasana kembali hening, wajah meneduhkan itu juga seakan ikut menikmati pemandangan kolam ikan dan duduk disamping Bhumi
"lihatlah ikan-ikan itu anakku, mereka adalah ikan pilihan, sepertinya memang dianugerahkan Tuhan untuk dapat menghibur seseorang" ucap Mbah kakung sambil terus menikmati pemandangan yang ada di depannya
begitupun dengan Bhumi, ia sedikit menoleh ke arah Mbah Kakung, dan kembali melihat kedepan sambil menunduk tanda setuju
"Mbah, bukannya Allah sudah berjanji? sesudah kesulitan pasti ada kemudahan? tapi kenapa aku tak melihat janji kemudahan itu datang ya mbah? malah aku selalu ditimpa musibah , bahkan sakit" Bhumi akhirnya mengeluarkan apa yang ada dibenaknya selama ini
Mbah Kakung hanya tersenyum, dan menjawab "anakku, itu tandanya kamu lagi disayang sama Allah, Allah pengen lebih deket sama kamu, pengen kamu lebih manja ke Dia"
Bhumi masih tak mengerti apa yang di maksud mbah kakung tadi, "lantas? kalau sayang kenapa Allah tidak menolongku? menyelesaikan semua permasalahan yang ada selama ini? padahal aku sudah melakukan usaha semaksimal mungkin, ah ada ada saja " Bhumi berkata dalam hati
"anakku, setiap pagi mbah selalu pergi ke sawah untuk menuai padi, mbah selalu menjaga sawah agar selalu tumbuh sampai tiba saatnya untuk di petik padi nya, namun mbah juga tidak lupa untuk menjaga sawah agar selalu ditumbuhi rumput, hal itu mbah lakukan juga untuk menjaga kesuburan sawah mbah, kalau mbah hanya menanam rumput, maka mbah tidak akan dapat padi, dan belum tentu juga rumputnya bisa tumbuh" Mbah Kakung mulai bercerita
"kamu mengerti maksudnya nak?" tanya Mbah Kakung kepada Bhumi
Bhumi menggeleng tanda tak mengerti
"baiklah Mbah jelaskan, ibaratkan padi adalah akhirat, rumput adalah dunia, maka kerjarlah akhiratmu, tapi jangan lupakan duniamu, mungkin kamu terlalu asik dengan dunia mu, kamu terlalu mengejar duniamu, sampai kamu lupa tujuan awal diciptakannya manusia ya untuk nyembah Allah, Allah mungkin lagi 'nyentil' keasyikanmu dengan dunia, pengen kamu kembali lagi ke jalur yang semestinya"
Bhumi terdiam tertunduk
"mungkin kamu masih terlalu memfokuskan diri kamu ke 'rumput' sampai lupa bahwa tujuan awal kamu ya 'menuai padi' , mungkin kamu terlalu fokus dengan pekerjaan mu sampai panggilan azan pun sudah tidak menggetarkan hatimu, kamu tunda shalat mu demi mengejar dunia mu"
"Allah buat kamu kesusahan pada saat kamu lalai supaya kamu menyadari kembali bahwa Dia lah tempat sebaik baiknya memohon dan meminta pertolongan seperti yang sering kamu baca di al fatihah shalatmu itu"
"Allah buat kamu sakit karena Allah pengen ngapus dosa-dosa yang ada di dirimu yang mungkin tidak sadar melakukan kemaksiatan, Allah mau meringankan siksaan mu diakhirat dengan dibalas di dunia"
"kalau begitu, bukan kah itu tanda sayang nya Allah ke kamu nak? dia tidak membiarkan kamu belok terlalu jauh nak, dia ingin bermanja manja lagi dengan mu di sepertiga malam yang dulu kamu sering lakukan tapi jarang lagi kau lakukan karena kesibukan dunia mu itu"
masuk, jauh kedalam hati Bhumi, dalam tundukannya matanya terpejam, sungguh ia telah banyak melupakan Allah, menunda shalat, melakukan maksiat, bahkan sunnah yang dulu ia kerjakan mulai pudar karena kesibukannya, ia menangis dalam tundukannya, mengucap istighfar sebanyak mungkin
Mbah Kakung melihatnya dengan penuh haru, iya tepuk pundak Bhumi, "sudahlah, Allah maha pengasih lagi maha penyayang, minta ampun sama Allah, dengan minta ampun insyaAllah sudah menyelesaikan setengah masalah mu nak, mari kita siap siap shalat isya, kamu yang azan ya" ucap Mbah Kakung lagi kagi dengan muka teduh nya
ah, kalian tahu, hidup ini sesungguhnya sederhana, hanya untuk beribadah kepada Allah, ya niatkan saja semua nya untuk ibadah, memulai dengan bismillah, mengakhiri dengan alhamdulillah, meniatkannya untuk beribadah, ya sesederhana itu memang
"dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di(muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" (QS Al-Qashash [28]:77"
Hari itu, di masjid nurul ashri, didekat rumahnya, seusai sholat maghrib berjamaah, Bhumi terlihat murung, mukanya tidak secerah biasanya, sedih, pandangan nya lebih banyak kosong, senyuman dari bibirnya pun lebih lebih jarang terlihat, duduk termenung di dekat kolam ikan tempat favoritnya itu, ya biasanya jika sedang jenuh, tempat itu lah yang menjadi favoritnya, hanya untuk sekedar melihat 9 ikan koi besar yang ada didalam kolam yang dihiasi air mancur didalamnya, hanya duduk, entah kemana pikirannya melayang, namun pandangan nya kosong ke depan...bersandar pada sebuah tiang masjid, tempat favoritnya dari dulu...
"Assalamualaikum, Bhum" seorang setengah baya mendatanginya sambil tersenyum, wajah nya sejuk sekali, meneduhkan siapapun yang melihatnya, wajah yang sering dibasuh air wudhu, ah memang, akhlak mulia selalu ditukar dengan wajah yang menyenangkan, biasanya orang didesa nya memanggilnya dengan Mbah Kakung, imam masjid ini
"Waalaikumsalam, mbah" wajah Bhumi serontak kaget, namun segera tangan nya menyalami tangan mbah sambil mencium nya
suasana kembali hening, wajah meneduhkan itu juga seakan ikut menikmati pemandangan kolam ikan dan duduk disamping Bhumi
"lihatlah ikan-ikan itu anakku, mereka adalah ikan pilihan, sepertinya memang dianugerahkan Tuhan untuk dapat menghibur seseorang" ucap Mbah kakung sambil terus menikmati pemandangan yang ada di depannya
begitupun dengan Bhumi, ia sedikit menoleh ke arah Mbah Kakung, dan kembali melihat kedepan sambil menunduk tanda setuju
"Mbah, bukannya Allah sudah berjanji? sesudah kesulitan pasti ada kemudahan? tapi kenapa aku tak melihat janji kemudahan itu datang ya mbah? malah aku selalu ditimpa musibah , bahkan sakit" Bhumi akhirnya mengeluarkan apa yang ada dibenaknya selama ini
Mbah Kakung hanya tersenyum, dan menjawab "anakku, itu tandanya kamu lagi disayang sama Allah, Allah pengen lebih deket sama kamu, pengen kamu lebih manja ke Dia"
Bhumi masih tak mengerti apa yang di maksud mbah kakung tadi, "lantas? kalau sayang kenapa Allah tidak menolongku? menyelesaikan semua permasalahan yang ada selama ini? padahal aku sudah melakukan usaha semaksimal mungkin, ah ada ada saja " Bhumi berkata dalam hati
"anakku, setiap pagi mbah selalu pergi ke sawah untuk menuai padi, mbah selalu menjaga sawah agar selalu tumbuh sampai tiba saatnya untuk di petik padi nya, namun mbah juga tidak lupa untuk menjaga sawah agar selalu ditumbuhi rumput, hal itu mbah lakukan juga untuk menjaga kesuburan sawah mbah, kalau mbah hanya menanam rumput, maka mbah tidak akan dapat padi, dan belum tentu juga rumputnya bisa tumbuh" Mbah Kakung mulai bercerita
"kamu mengerti maksudnya nak?" tanya Mbah Kakung kepada Bhumi
Bhumi menggeleng tanda tak mengerti
"baiklah Mbah jelaskan, ibaratkan padi adalah akhirat, rumput adalah dunia, maka kerjarlah akhiratmu, tapi jangan lupakan duniamu, mungkin kamu terlalu asik dengan dunia mu, kamu terlalu mengejar duniamu, sampai kamu lupa tujuan awal diciptakannya manusia ya untuk nyembah Allah, Allah mungkin lagi 'nyentil' keasyikanmu dengan dunia, pengen kamu kembali lagi ke jalur yang semestinya"
Bhumi terdiam tertunduk
"mungkin kamu masih terlalu memfokuskan diri kamu ke 'rumput' sampai lupa bahwa tujuan awal kamu ya 'menuai padi' , mungkin kamu terlalu fokus dengan pekerjaan mu sampai panggilan azan pun sudah tidak menggetarkan hatimu, kamu tunda shalat mu demi mengejar dunia mu"
"Allah buat kamu kesusahan pada saat kamu lalai supaya kamu menyadari kembali bahwa Dia lah tempat sebaik baiknya memohon dan meminta pertolongan seperti yang sering kamu baca di al fatihah shalatmu itu"
"Allah buat kamu sakit karena Allah pengen ngapus dosa-dosa yang ada di dirimu yang mungkin tidak sadar melakukan kemaksiatan, Allah mau meringankan siksaan mu diakhirat dengan dibalas di dunia"
"kalau begitu, bukan kah itu tanda sayang nya Allah ke kamu nak? dia tidak membiarkan kamu belok terlalu jauh nak, dia ingin bermanja manja lagi dengan mu di sepertiga malam yang dulu kamu sering lakukan tapi jarang lagi kau lakukan karena kesibukan dunia mu itu"
masuk, jauh kedalam hati Bhumi, dalam tundukannya matanya terpejam, sungguh ia telah banyak melupakan Allah, menunda shalat, melakukan maksiat, bahkan sunnah yang dulu ia kerjakan mulai pudar karena kesibukannya, ia menangis dalam tundukannya, mengucap istighfar sebanyak mungkin
Mbah Kakung melihatnya dengan penuh haru, iya tepuk pundak Bhumi, "sudahlah, Allah maha pengasih lagi maha penyayang, minta ampun sama Allah, dengan minta ampun insyaAllah sudah menyelesaikan setengah masalah mu nak, mari kita siap siap shalat isya, kamu yang azan ya" ucap Mbah Kakung lagi kagi dengan muka teduh nya
ah, kalian tahu, hidup ini sesungguhnya sederhana, hanya untuk beribadah kepada Allah, ya niatkan saja semua nya untuk ibadah, memulai dengan bismillah, mengakhiri dengan alhamdulillah, meniatkannya untuk beribadah, ya sesederhana itu memang
"dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di(muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" (QS Al-Qashash [28]:77"
"akhirat itu penuh kepastian, dunia itu penuh kemungkinan
kejar yang pasti, jangan lupakan yang mungkin'"
semoga bermanfaat :)
Sabtu, 26 Januari 2013
5 cm per second
"When our path cross each other, I am always the first to turn
I am always searching somewhere for you
Even at the intersection and dream
Even though I know you won't be here
I always end up looking somewhere for your smile
At the railway crossing of the fast pace town
Even though I know you won't be here "
hmm, actually not you, but 'your figure'
i am always try my best to give up searching like 'your figure', try my best to replace by someone other
One more chance tripped by memories
mungkin suatu pagi nanti kelak, aku akan berhenti berfikir untuk mencari sosok seperti kamu
berdiri tegak menjadi sosok yang baru
berdamai dengan sekeranjang kenangan yang kamu tinggal di depan pintu
mengikuti jejakmu yang telah melangkah jauh
kenapa film ini pas sekali dengan kita? :D
Kamis, 03 Januari 2013
"puding" terbaik
pada suatu pagi Bhumi pergi ke kediaman guru nya, seperti biasanya sepagi ini sang guru selalu pergi ke sawah untuk menuai padi, Bhumi menunggu di gubuk beratapkan jerami dipinggir sawah, tidak mau menganggu sang guru yang sedang asik di sawah, suasana sawah selalu menyenangkan baginya, membentai luas yang dibatasi dengan gunung, alam selalu menjadi makhluk paling jujur, menampilkan kepolosan keindahannya, walau matahari di sana sedikit malu malu menampakkan diri, namun alam selalu mengajari tentang kejujuran, dan kejujuran selalu indah untuk di nikmati
ketika sedang asyik menikmati alam, sang guru yang tahu Bhumi menunggu dirinya kemudian menghampirinya, sambil menaruh cangkul nya dan mengusap wajah nya dengan handuk, sang guru pun duduk disamping Bhumi
"Kek, ini saya bawakan nasi tempe dari rumah yang tadi di masak sama ibu, saya pengen makan bareng sama kakek" ucap Bhumi sambil menyalami sang guru
"wah, tidak biasanya kamu Bhum, ayo kita santap bersama" balas sang guru sambil membuka bungkusan makanan yang Bhumi bawa
mereka pun menyantap masakan ibu dengan penuh khitmat
"ada apa Bhum?" ucap sang guru setelah menyantap nasi tempe ibu Bhumi
"gak ada apa apa kek, Bhumi hanya ingin makan pagi bersama kakek ditengah sawah ini, hehe" balas Bhumi
"kakek sudah jadi guru mu sejak kamu SD Bhum, kamu ndak bisa bohong sama kakek" ucap sang guru
Bhumi tertunduk, suasana kembali hening, sang guru melihat jauh kedepan, memandang indahnya pemandangan alam, semuanya diam
"dia menikah dengan pria lain kek" ucap Bhumi sambil ikut memandang jauh kedepan
"Dellila?" balas sang guru
Bhumi masih menunduk meng-iyakan
sang guru kemudian tersenyum
"kamu masih seperti kamu yang dulu ya Bhum, dulu kamu selalu menangis merengek menginginkan permen milik teman, padahal dirumah ibu mu sedang menyiapkan puding kesukaanmu, sama seperti sekarang, sudahlah Bhum, Tuhan sedang menyiapkan 'puding' terbaik mu kelak, sabar lah semua ada waktu nya nak" ucap sang guru sambil menepuk bahu murid kesayangan nya itu
sang guru kemudian kembali mengambil cangkul dan pergi meninggalkan Bhumi, kembali asik menuai padi, sementara Bhumi masih terdiam dan akhirnya lengkungan senyum di bibirnya pun kembali merekah sembari melantunkan doa di dalam hatinya, "semoga kamu bahagia Dellila"
ketika sedang asyik menikmati alam, sang guru yang tahu Bhumi menunggu dirinya kemudian menghampirinya, sambil menaruh cangkul nya dan mengusap wajah nya dengan handuk, sang guru pun duduk disamping Bhumi
"Kek, ini saya bawakan nasi tempe dari rumah yang tadi di masak sama ibu, saya pengen makan bareng sama kakek" ucap Bhumi sambil menyalami sang guru
"wah, tidak biasanya kamu Bhum, ayo kita santap bersama" balas sang guru sambil membuka bungkusan makanan yang Bhumi bawa
mereka pun menyantap masakan ibu dengan penuh khitmat
"ada apa Bhum?" ucap sang guru setelah menyantap nasi tempe ibu Bhumi
"gak ada apa apa kek, Bhumi hanya ingin makan pagi bersama kakek ditengah sawah ini, hehe" balas Bhumi
"kakek sudah jadi guru mu sejak kamu SD Bhum, kamu ndak bisa bohong sama kakek" ucap sang guru
Bhumi tertunduk, suasana kembali hening, sang guru melihat jauh kedepan, memandang indahnya pemandangan alam, semuanya diam
"dia menikah dengan pria lain kek" ucap Bhumi sambil ikut memandang jauh kedepan
"Dellila?" balas sang guru
Bhumi masih menunduk meng-iyakan
sang guru kemudian tersenyum
"kamu masih seperti kamu yang dulu ya Bhum, dulu kamu selalu menangis merengek menginginkan permen milik teman, padahal dirumah ibu mu sedang menyiapkan puding kesukaanmu, sama seperti sekarang, sudahlah Bhum, Tuhan sedang menyiapkan 'puding' terbaik mu kelak, sabar lah semua ada waktu nya nak" ucap sang guru sambil menepuk bahu murid kesayangan nya itu
sang guru kemudian kembali mengambil cangkul dan pergi meninggalkan Bhumi, kembali asik menuai padi, sementara Bhumi masih terdiam dan akhirnya lengkungan senyum di bibirnya pun kembali merekah sembari melantunkan doa di dalam hatinya, "semoga kamu bahagia Dellila"
Minggu, 16 Desember 2012
belajar khusyuk dari anak kecil
tadi maghrib melihat seorang anak kecil, sekitar 5-7 tahun, khusyuuuk sekali dalam shalatnya, saat takbir pelaan sekali gerakannya, setiap gerakannya lembuut, matanya terpejam kepalanya sedikit menunduk ke arah kiri, takjub sekali melihatnya,
pada saat saya datang dia sudah shalat, dan saya pun ikut shalat disamping nya, ketika saya salam, dia masih shalat rakaat kedua, dan masih seperti itu, pelan dan khusyuk sekali
ah, jadi malu sendiri
terimakasih untuk pelajarannya dik :)
Sabtu, 01 Desember 2012
terputusnya munajat
di suatu kesempatan ada yang bertanya kepada Hasan Al-Bashri "Aku melakukan dosa, tapi tetap di limpahkan karunia"
beliau menjawab "Apa semalam kau menunaikan qiyamul lail?"
"tidak" ujarnya
"begitulah. Hukuman terberat atas maksiat, mungkin bukan terputusnya rezeki, tapi terputusnya munajat" jelas sang imam
karena nikmat mana lagi yang lebih nikmat selain saat diri ini sedang mesra-mesra nya dengan Allah, saat diri ini jauh dari maksiat #nasihatdiri
beliau menjawab "Apa semalam kau menunaikan qiyamul lail?"
"tidak" ujarnya
"begitulah. Hukuman terberat atas maksiat, mungkin bukan terputusnya rezeki, tapi terputusnya munajat" jelas sang imam
karena nikmat mana lagi yang lebih nikmat selain saat diri ini sedang mesra-mesra nya dengan Allah, saat diri ini jauh dari maksiat #nasihatdiri
Sabtu, 24 November 2012
nasihat diri
Akan datang pada hari kiamat, satu kaum yang membawa kebaikan sebesar gunung uhud, maka Allah jadikan ia bulu beterbangan. Para sahabat bertanya, "apakah mereka itu muslim ya Rasulullah?" sebab sepaham mereka kekafiranlah yang menjadikan amal sia-sia. Jawab sang nabi mengejutkan, "mereka muslim, mereka shalat sebagaimana mereka shalat, mereka puasa sebagaimana kalian puasa, dan bahkan mereka menegakkan shalat malam. Akan tetapi, jika bersunyi bersama apa yang di larang Allah, mereka melanggarnya." (H.R Ath-Thabrani dan di shahihkan Al-Albani)
astaghfirullahaladzim, sungguh lemah diri ini akan kemaksiatan yang selalu dilakukan, bahkan masih terus dilakukan, sombong, riya, ujub, niat bukan karena Allah, ingin dipuji, kadang terlintas di pikiran diri, tapi selalu Engkau insyafkan dengan cara-cara Mu yang anggun sekali ya Rabb #nasihatdiri
Minggu, 18 November 2012
Langganan:
Postingan (Atom)













